Senin, 26 Mei 2014

Hari Buku Nasional, Kediri :)


Ajakan kak Anaz hari itu memang seperti pencerahan, oase di tengah padang pasir. Berlebihan? Ah tidak juga. Hari itu memang rasanya aku butuh berlibur, bosan dengan rutinitas harian, ingin kabur sejenak dari folder bernama ‘Skripsi’ di laptop. Karena itu aku langsung mengiyakan ajakan kak Anaz untuk mengikuti Hari Buku Nasional di Kepung, Kediri, Jawa Timur. Padahal waktu itu kantong sedang tidak bersahabat, tetapi bermodal keyakinan ‘pasti ada jalan’ aku mantap untuk ikut.

Berdua dengan kak Ayu aku berangkat dari Lampung, sempat deg-degan sebenarnya mengingat di Jakarta nanti aku akan bertemu kak Aip. Siapa dia? Seseorang yang aku kagumi karena kecintaannya pada kegiatan sosial, yang juga aku kenal dari kebiasaan stalking di blog kak Anaz dan yang mengenalkan aku pada anak-anak pulau Tegal.

Kami berkumpul di stasiun Senen tepat ketika adzan Dzuhur berkumandang. Kak Aip datang bersama Ijal, Aty dan Udin dari Serang, Ari dari Bekasi, kak Anaz, kak Ito, kak Ria dan kak Indri dari Jakarta. Kak Ria dan kak Indri tidak ikut, hanya mengantar kami dan berbaik hati memberikan bekal es krim dan donat. 

ngerayain ulang tahun kak Aip, kak Ria dan Ijal,di stasiun Senen, digabung mumpung lagi ngumpul :D
Perjalanan 13 jam di kereta tidak terasa lama, bukan karena kereta yang melaju sangat kencang, tapi karena kami kurang beruntung punya Ari, teman-teman memanggilnya ‘cungkring’. Dia punya persediaan batrai yang luar biasa. Tidak berhenti berceloteh, ada saja bahan obrolan yang ia lontarkan yang selalu sukses membuat kami tertawa, bahkan tidak jarang aku yang menjadi korban bully-an nya. Tidak jarang juga beberapa penumpang lain mendumel sebal karena celotehnya, bahkan ada yang sampai memilih pindah tempah duduk (Astaga Ariii -_-‘) tetapi tempat duduk kami jadi lapang :D.  Di balik itu semua Ari yang telaten mengobati kaki kak Ayu yang keseleo. 
Ari lagi ngurut kaki ka Ayu yang kesleo

kereta mampir di Semarang 1 jam, keliling dulu sama Ari dan Aty :D
Jam 3 dini hari kami tiba di stasiun Kediri, menunggu babeh Helmi dan mbak Ning yang menumpang kereta yang berbeda dengan kami. 1 jam perjalanan menuju lokasi kami nikmati dengan menumpang mobil pick up.  Oh ya ternyata babeh Helmi jauh dari yang ku bayangkan. Aku pikir akan bertemu dengan sosok yang kaku ternyata babeh Helmi sukses membuat muka ku memerah, bahkan Ari pun kalah. Ah babeh!
jam 3 dini hari dan kita kelaparan, kak Anaz anteng update status #terbiar

pick up dengan babeh sebagai fotografer, muka bahagia padahal belum mandi dari kemaren sore :D
Tiba di lokasi kami langsung di sambut anak-anak. Tidak membuang waktu kak Ito, Udin dan Ijal berkenalan dengan anak-anak sementara kami bersiap-siap. Sesi pertama diisi Funtivasi dengan kak Ito sebagai pemateri. Funtivasi sendiri adalah motivasi yang diberikan melalui jokes dan game sehingga anak-anak tidak akan merasa jemu dan bosan di dalamnya.
capeknya langsung ilang pas liat ini :)


nangis waktu ikrar sahabat :'(
berpelukan :')
Lepas jum’atan anak-anak kembali berkumpul di sekolah. Udin dengan Sainstrik nya sudah siap dimulai. Aku sudah mencari posisi, siap memperhatikan sampai Udin memanggil nama ku dan Aty untuk maju ke depan mengisi materi awal tentang mikroskop dan sel. Aku melirik Aty ragu, sementara yang ku lirik balik menatapku sama bingungnya. Bermodal bismilah aku dan Aty maju ke depan, meskipun awalnya sedikit gugup alhamdulilah materi berjalan lancar sampai kak Aip harus mengingatkan kalau sesi kami berdua hanya tinggal 5 menit lagi. :D
atur fokus, mari mengamati sel tumbuhan
ada kelompok yang bawa laba-laba, mari belajar tentang laba-laba
Udin mengambil alih setelahnya, anak-anak dibuat asyik dengan eksperimen-eksperimen yang dilakukan, heboh berdiskusi saat diminta menjawab pertanyaan. Lupakan bahwa teori sains itu memusingkan, mari bereksperimen. 

Sukma dari tim semut sedang bereksperimen :)
lagi heboh diskusi buat jawab pertanyaan :D


udah mirip adik kakak belum :D
Aliansi remaja Kediri kemudian melanjutkan dengan games. Anak-anak kemudian dibagi menjadi 3 kelompok. Tidak mau ketinggalan aku ikut kedalam salah 1 kelompok, dibantu dengan Udin dan Silvi di kelompok lainnya. Meneriakan yel-yel favorit ‘pasti bisa!’, dan kemudian berbangga hati mendapatkan urutan juara kedua. :)

Malam hari adalah bagian yang paling ditunggu, kenapa? karena kak Aip akan memberikan materi tentang astronomi, tentang rasi bintang, juga Udin dengan lampion terbangnya. Malam menjadi lebih seru karena ternyata bukan cuma anak-anak yang datang, tetapi juga para orang tua dan warga sekitar. Kak Aip memang keren, banyak yang berdecak kagum saat materi disampaikan, saat yang lain diajak praktek untuk melihat rasi bintang.  Apalagi saat video kehidupan para astronot di luar angkasa di putar, bahkan para orangtua tidak mau kalah heboh duduk lebih merapat demi bisa melihat dengan jelas. Sayang langit malam itu mendung, kami batal melihat bulan dengan teleskop.
kak Aip lagi ngenalin teleskop reflector


anak-anak, ibu, bapak semuanya gabung jadi 1 :D
Menyusun lilin membentuk lingkaran besar dengan kami yang siap menerbangkan lampion ditengahnya, itulah yang dilakukan Udin. Anak-anak tidak sabar ingin ikut menerbangkan. Panitia yang lain bahkan hampir kewalahan mengatur agar mereka mau bersabar. Anak-anak kemudian dibagi menjadi 7 kelompok dan menerbangkannya bergantian. Udin sempat dirundung cemas *bahkan sampai lupa caranya tersenyum* karena angin yang tidak begitu bersahabat, khawatir kalau lampion tidak bisa terbang. Tetapi untunglah pemilik semesta meridhoi kami, sampai lampion terakhir tetap bisa terbang tanpa halangan berarti (Alhamdulilah). 
persiapan nerbangin lampion


 
lampion pertama


lampion terakhir dan Udin udah bisa senyum lagi :D

Keesokan harinya kami siap untuk mengikuti upacara bendera. Kami berpakaian merah putih layaknya anak SD, kak Aip, kak Ito, Udin dan Ijal bahkan memesan seragam SD ke tukang jahit, demi mendapatkan ukuran yang pas. Tetapi sayangnya postur tubuh kami tidak bisa menipu, kami terlihat mencolok dibanding anak SD pada umumnya :D


Berbicara tentang anak-anak tidak pernah bisa lepas dari yang namanya cita-cita. Mereka selalu punya jawaban menarik saat ditanya ‘apa cita-cita mu?’. Kak Aip dengan sesi Dream Trigger nya mampu membuat anak-anak berani bermimpi, melatih percaya diri utntuk berani tampil. Bukan tentang apa cita-cita mu, tapi bagaimana kau meyakini dan tidak pernah menyerah untuk berusaha mewujudkannya. :)

speak up your dream








dan mari melangkah dengan penuh percaya diri :)
 Serangkaian acara ini kemudian ditutup dengan pembagian hadiah, Sebenarnya tid-ak ada yang menang ataupun kalah, karena semua kelompok mendapatkan hadiah. 



Aku, kak Ayu, kak Aip dan Udin pulang sore itu juga, sedangkan rombongan yang lain pulang keesokan harinya. Rombongan yang tinggal sempat berkeliling Kediri dan mengunjungi taman baca Mahanani, Ijal berbaik hati membuat iri melalui ceritanya disini

Ah ya disini saya juga berkenalan dengan teman-teman blogger Kediri mas Puguh, Tiwi dan Silvi ( terima kasih udah mau aku repotin buat bantu beli ini itu selama disana), teman-teman aliansi remaja Kediri, juga Ibu yang udah baik banget mau masakin buat kita :)

Juga buat teman-teman yang berbaik hati mau menitipkan donasi untuk acara ini, semoga Tuhan membalas rezeki untuk kalian berkali-kali lipat. Semoga selalu punya hati yang kaya untuk berbagi. :)

Teman-teman semestarian, adalah sebuah kesyukuran untuk mengenal kalian, aku belajar banyak hal, tetaplah menginspirasi. Ini mungkin pertama kali aku ikut di acara ini, tetapi semoga ini bukan yang terakhir, semoga bisa ikut di kegiatan berikutnya. “Kapan kita bertemu lagi? Secepatnya!” 


Tidak lupa terima kasih kepada pemilik semesta yang telah mempertemukan kita :')



Senin, 14 April 2014

Dia, Malaikat untuk Ku :)



Dia tidak lain adalah tetangga ku, seorang teman yang ku kenal karena persamaan hobby. Umur ku 14 tahun saat pertama kali mengenalnya. Dia 2 tahun diatasku. Aku duduk di bangku kelas 2 SMP sedangkan dia SMA kelas 1. Dia memilki koleksi novel, dan baik sekali mau meminjamkan ku koleksinya. Aku bahkan sempat menulis “Ratu Novel” sebagai namanya di kontak HP ku.

Rumahnya tepat di belakang rumah ku, membuat ku rutin berkunjung setiap sore untuk meminjam koleksinya. Ibunya bahkan sudah hapal kalau aku yang berkunjung setiap jam 4 sore. Aku suka membaca, tetapi sayangnya aku tidak mempunyai uang jajan yang berlebih untuk membeli novel. Aku harus menabung, menyisahkan 1000 per hari untuk membeli sebuah buku. Jadilah koleksi novel ku hanya akan bertambah seiring dengan pergantian bulan.

Kunjungan rutin ku kadang hanya sebentar, mengambil buku yang akn ku pinjam lalu pergi setelah mendapatkannya, tetapi lama-lama dia sering meminta ku mampir, mengobrol. Aku tidak keberatan, lagipula kalau aku buru-buru pulang juga pasti Ibu akan menyuruhku mencuci tumpukan piring kotor bekas makan siang. Rumahnya memilki sebuah ayunan, dan kami sering mengobrol disana.

Dia sering bercerita tentang teman-temannya di sekolah, bukan menjelek-jelekkan seperti sebagian orang ketika bercerita tentang teman-temannya, sebaliknya dia selalu bercerita tentang keseruannya bersama teman-temannya. Aku senang mendengar ceritanya, cerita itu selalu terdengar menarik, aku bisa melihat kebahagiaannya ketika bercerita, aku mungkin tidak mengalaminya secara langsung, tetapi kebahagiannya selalu menular, membuat ku bersemangat untuk memilki teman-teman terbaik sepertinya.

Kami semakin dekat setiap harinya, lambat laun aku mulai membuka hati untuk nya, tidak ragu membagi cerita ku. Dia pendengar sekaligus penasihat yang baik, dia seperti seorang kakak. Memarahi ku kalau aku salah, memelukku saat aku bersedih. Dia pribadi yang amat menyenangkan, 5 tahun kami berteman dan aku tidak pernah sekalipun marah padanya.

Dia memiliki cita-cita yang sangat mulia. Dia ingin menjadi seorang dokter, bukan karena pendapatan seorang dokter yang cukup menggiurkan, tetapi karena dia hanya ingin menolong sesama, membantu menyembuhkan pasien dan melihat raut bahagia. Aku terdiam mendengar cita-citanya, mengaguminya dan berjanji akan selalu menyebut namanya dalam doa ku untuk mencapai cita-cita nya.

Satu hal yang tidak disukainya dari ku adalah kemalasan ku untuk sholat. Masa SMA ku adalah masa kelam ku, bukan karena rentetan kenakalan yang ku lakukan, aku siswi SMA seperti kebanyakan, patuh terhadap aturan. Tetapi aku membenci Tuhan, selalu enggan untuk sholat, dia selalu memarahi ku karena itu. Bertanya kenapa aku tidak pernah sholat, aku hanya menjawab karena aku sedang halangan. Tentu saja dia tidak serta merta terima, selalu bawel menasehati ku, tetapi lagi-lagi aku bebal.

Tahun pertama dia kuliah, dia memutuskan berhijab. Dia semakin gencar menasehati ku, bahkan selalu bertanya kapan aku akan memakai hijab ku. Menjelaskan dengan sabar tentang kewajiban ku sebagai seorang muslimah. Aku hanya mendengarkan, tetapi tidak benar-benar menanggapi. Aku bilang kepadanya Tuhan tidak adil, kenapa aku sholat kalau Tuhan saja tidak adil terhadapku. Dia selalu bilang Tuhan itu adil dan selalu adil.

Dia orang yang selalu sabar menghadapi ku, bahkan ketika aku marah dan meninggalkan nya pergi, dia selalu datang kembali, seperti seorang kakak, membuatku malu karena begitu manja dan seperti anak kecil. Kesabaran dan kepercayaannya kalau aku akan berubah membuahkan hasil, Tuhan menjawab doanya, memberikan ku hidayah melalui sebuah buku. Aku ingat bagaimana suara nya disebrang telpon saat aku bilang aku mau berhijab.

Dia menyemangati ku, bilang kalau semua itu ujian saat orang-orang ragu dengan keputusan ku. Dia selalu seperti malaikat, membantu ku saat terjatuh, membuat ku selalu memandang dari sisi yang berbeda, meyakini bahwa sepenuhnya Tuhan maha adil.

Dia meliki hati yang sangat mulia, selalu mau membantu orang lain. Terlahir dari keluarga yang berkecukupan tidak pernah membuatnya menjadi sombong, sebaliknya dia selalu mau berbagi dengan sesama. Aku belajar banyak darinya, mencontohnya, selalu ingin menjadi sepertinya.

Meminta seorang adik itu mudah, tetapi meminta seorang kakak itu sulit, apalagi aku yang terlahir sebagai sulung dari 2 bersaudara. Tetapi Tuhan baik sekali kepada ku, dia memberiku seorang kakak bahkan sebelum aku meminta nya, seorang kakak dengan hati yang amat mulia.

Dia selalu suka membelikan ku ini dan itu, mentraktirku. Awalnya aku senang tentu saja, tetapi lama-lama aku kesal, marah. Aku tidak ingin dia menganggapku berteman dengannya karena ada maunya, aku tidak ingin seperti itu. Tetapi dia marah saat aku menyuarakan keberatan ku. Dia bilang apakah aku benar-benar menganggapnya seorang kakak, kalau memang iya lalu apa salahnya seorang kakak yang baik kepada adiknya sendiri.

“Kalau memang kamu mau membalas budi mbak, Jadilah anak yang baik, rajinlah belajar supaya pintar dan jadi orang yang sukses. Jangan pernah tinggalin sholat, berbuat baik dengan siapa pun yang kamu kenal, jangan pernah membeda-bedakan orang lain dan buat mbak bangga” itu nasihatnya yang selalu aku ingat. Ku pegang teguh sampai detik ini.

Aku rajin belajar setelah itu, selalu semangat menelponnya, memberi kabar IP yang ku peroleh. Dia orang ketiga setelah orang tua dan nenek ku yang ingin ku lihat tersenyum bangga ketika aku berhasil nanti.

Di hari jadinya yang ke 24 ini aku belum bisa membalas budi baiknya. Hanya bisa memberi doa setulus hati agar koas nya berjalan lancar. Agar dia secepatnya menjadi seorang dokter seperti cita-citanya. Agar dia dipertemukan dengan seseorang yang akan menjadi imam yang menuntunnya menuju surga. Agar dia selalu dalam lindungan Nya dimana pun dia berada. Agar dia selalu diberi kesehatan dan rezeki untuk selalu bisa berbagi dengan sesama. Serta diberikan umur yang panjang.

Untuk dia, kakak terbaik yang pernah ku punya Norawaty Ma’as :’))

Membayar Lunas Hutang Rindu :)


Oktober 2013 adalah pertama kali aku mengenal mereka, anak-anak Pulau Tegal. Bersama Mas Paeng dan teman-teman RBAN lampung aku pertama kali mengijakan kaki di pulau itu. Aku masih ingat bagaimana mereka masih malu-malu ketika diminta untuk memperkenalkan diri. Ragu menyebut cita-cita, mengingat mereka yang tidak mengenyam pendidikan formal seperti anak-anak lainnya. Tetapi kepolosan mereka membuat ku dan teman-teman jatuh cinta. Itulah yang menjadi alasan kami menyempatkan akhir pekan untuk datang kesana. Kadang banyak teman-teman baru dari berbagai komunitas yang ikut meramaikan kegiatan mingguan ini, membuat ku berkenalan dengan teman-teman baru.

Tidak masalah apapun label komunitasnya selagi tujuan kita sama untuk berbagi, lagipula rasanya anak-anak juga tidak peduli label mu, yang terpenting bagi mereka adalah ada kakak-kakak yang datang dan peduli. :)

Januari 2014 itulah teakhir kali aku bertemu mereka. Hampir 3 bulan lamanya tidak pernah bertemu kembali, bermain bersama, belajar bersama dan tertawa bersama. Mematuhi peraturan akademik untuk mengikuti KKN selama 40 hari di Kabupaten Mesuji membuatku tidak bisa melakukan rutinitas mingguan ku, mengunjungi Pulau Tegal.

Tetapi kegiatan ini terus berjalan setiap minggunya, beruntung aku mengenal Sisil, semangatnya luar biasa, selalu mengajak teman-teman yang lain untuk menyempatkan waktu disela-sela kesibukan. Sisil rutin memberiku kabar anak-anak selama aku mengikuti kegiatan KKN di Mesuji. Termasuk ketika anak-anak mendapatkan bantuan baju seragam dan peralatan sekolah dari teman-teman 1000 guru. Dia memberikan kabar melalui SMS, WA ataupun twitter. Aku senang karena banyak yang peduli pada anak-anak, meskipun aku tidak ada disana, menyaksikan secara langsung bahagianya mereka.

Sisil juga sering bertanya kapan aku bisa pulang, dia bilang bahwa anak-anak sering bertanya kenapa aku tidak pernah ikut datang ke pulau. Pertanyaan yang sulit ku jawab, kalau ingin jujur aku pun kangen pada anak-anak, tetapi aku tidak bisa pulang. Lokasi desa tempat ku KKN cukup jauh, bukan aspal dan masih jalan tanah yang kalau hujan tidak bisa dilalui kendaraan. Aku terpaksa harus memendam rindu, berharap KKN secepatnya berakhir, bukan karena aku tidak betah, tetapi karena aku rindu anak-anak.

4 Maret KKN berakhir, saat itu aku pikir aku bisa menemui anak-anak di tanggal 8 dan menginap disana, tetapi kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan membut rencana ku batal. Setelah itu ada saja hal-hal yang terjadi setiap minggunya, membuatku harus menelan kecewa. Aku masih harus memendam rindu.

10 April, aku mengirim WA ke kak Ayu, mengajaknya untuk menginap di pulau, bermain bersama anak-anak. Tawaran ku dijawabnya dengan senang hati. Akhirnya sabtu siang aku menjemputnya di Moka, kebetulan dia tinggal di Metro dan menumpang travel 1 jam untuk menuju Bandarlampung. Kami berbelanja beberapa bahan yang diperlukan, kami berencana mengajak anak-anak membuat donat. Setelah semua bahan dirasa cukup, kami berangkat menuju Pantai Ringgung sekitar pukul 4 sore, tepat jam 5 kami bertemu Pak Nur salah satu warga pulau yang kapalnya biasa kami tumpangi.

Sekitar pukul setengah 6 sore kami tiba di Pulau Tegal. Aku melihat anak-anak dari kejauhan, tengah berlarian, berkejaran juga beberapa warga yang sedang duduk-duduk mengobrol mengisi sore hari. Anak-anak melihat kedatangan ku, berhenti berlarian, memperhatikan namun tidak berani mendekat. Ibu-ibu menunjuk kearah ku, dari kejauhan aku bisa mendengar nama ku disebut. Sampai kapal Pak Nur berlabuh, mereka hanya mendekat, tetapi tidak berani menyapa.

“Oke, jadi Riky, Herni, Hani ga ada yang mau bantuin kak Kiki bawa barang-barang ini” kata ku menunjuk beberapa bungkusan yang ku bawa, memecah hening. Mereka tertawa, mendekat dengan mecium tangan ku. Mereka membantu ku dan kak Ayu membawa barang. Aku menghampiri beberapa warga yang mengobrol, mencium tangan dan bertanya kabar. Mereka bertanya kenapa aku sudah lama tidak datang, aku menjawab seadanya, kesibukkan kuliah jawabku. Aku pamit untuk ke tempat Pak Nur meletakkan tas dan barang bawaan.

Aku membawa sedikit oleh-oleh untuk warga, meminta Riky untuk menemani ku berkeliling, membagikan. Riky dengan senang hati menerima ajakan ku, mengambil paling banyak bagian dan memimpin jalan di depan. Aku banyak bertanya kabar sepanjang jalan, Riky semangat bercerita bahwa dia kini sudah bersekolah lagi setiap hari, meskipun bukan pendidikan formal tetapi dia senang.

Rumah Hadi menjadi tujuan kedua kami, dia meminta untuk ikut, aku dengan senang hati mempersilahkan. Kami berempat lanjut berkeliling dan sampai di rumah Aldi dan Dayat.

“Assalamualaikum” ucap ku.
“Kak Kiki ya?” jawab suara dari dalam, bukannya menjawab salam ku.
“Iyaa, bukain pintu dong Aldi” jawabku. Pintu dibuka oleh Aldi, dan apa yang ku lihat membuat ku sempat ingin menangis. Aldi dan Dayat bermodal sebuah lampu minyak sedang belajar, menulis sesuatu di buku tulis. Aku masih ingat, mereka berdua adalah anak yang cukup sulit aku bujuk untuk mau belajar. Dulu bahkan Aldi dan Hadi lebih memilih kabur untuk memancing daripada mengikuti kegiatan belajar mingguan kami. Aku sampai harus berkejar-kejaran, membujuk dengan sabar ketika aldi ngambek dan mengusirku dari rumahnya.

Mengobrol sebentar dengan Ibu Aldi kemudian aku berpamitan, karena adzan Magrib hampir berkumandang, langit hampir gelap sedangkan kami berempat tidak ada yang membawa senter. Aldi menawarkan diri mengantar, meminta ku menunggu sebentar karena dia mau mnyelesaikan PR nya. Selesai berpamitan dengan ibunya dia pun ikut, membawa senter yang dipasang di kepala. Disepanjang jalan Aldi tidak berhenti bertanya kenapa aku tidak pernah datang, bilang kalau dia sekarang sudah tidak nakal lagi, sudah tidak pernah kabur lagi, dan bahkan semangat belajar.

“Kak Kiki kenapa ga pernah dateng” tanya Aldi.
“Iya kak, saya juga nanyain sama kak Sisil” timpal Riky.
“Eh saya mah tiap minggu geh kak nanya nya” Aldi tak mau kalah. Aku tertawa, menjelaskan seadanya. Mereka kemudian bercerita tentang kegiatan mereka di sekolah, juga tentang kegiatan mengaji mereka yang sudah sebulan ini terhenti. Aku bertanya kenapa, mereka hanya menjawab bahwa ada sedikit masalah tetapi tidak mau berbicara lebih lanjut.

Menu makanan malam ini sayur jantung, aku tidak pernah suka makan sayur jantung pisang, tetapi sayur jantung pisang buatan ibu ini berbeda, selalu membuat ku ingin nambah. Ibu sendiri sudah hapal, selalu memasak sayur jantung setiap aku menginap disana. Lepas makan malam kami berkumpul di rumah Pak Nur. Aku, Mbak Ayu, Riky, Hani, Herni, Aldi, Hadi, Aas, Lela, Lani, dan Sinta, mengobrol, tertawa melihat keusilan Intan. Malam sudah semakin larut, Riky dan yang lain berpamitan pulang kerumah yang tersisa hanya Aldi. Aku bertanya kenapa dia tidak pulang, dan katanya dia mau ikut menginap di tempat Pak Nur. Aku mengajaknya tidur disebelahku, ku peluk tubuh kecilnya, dia tertidur dalam pelukan ku.

Esok paginya aku terbangun oleh suara ribut di depan rumah pak Nur. Aldi sudah pulang sebelum aku bangun. Ternyata anak-anak sudah berkumpul padahal waktu masih menunjukan pukul 7 dan aku berjanji untuk memulai acara pukul 8. Aku pun mandi seadanya, membawa bahan-bahan dan meminjam peralatan memasak ibu. Anak-anak bersemangat membantu ku, kami berjalan menuju gajebo dekat sekolah, melewati ibu-ibu yang tengah mengobrol. Berpesan kalau mereka juga ingin mencicipi donat buatan kami.

Pagi itu gajebo ramai sekali, semua berkumpul, tidak kurang 1 pun. Risma, Penti, Aas, Nirmala, Herni, Hani, Maisaroh, Nopi, Ningsih, Lela, Lani, Istiqomah, Sinta, Deni, Rohiman, Fahri, Aldi, Dayat, Wahyudi, Mawan, Riki,dan Hadi. Awalnya aku hanya memnbuat 2 adonan, tetapi karena pernipan masih tersisa 2 bungkus aku menawarkan pada mereka apakah ada yang ingin mencoba membuat. Risma mengangkat tangan malu-malu, aku memintanya untuk mengambil baskom dan kain dari rumah, meminta Aas dan Penti untuk membeli bahan-bahan.Semua anak-anak memperhatikan, berebutan untuk membantu. Setelah adonan jadi aku meminta mereka menunggu 15 menit sampai adonan mengembang, termasuk adonan yang dibuat Risma.

Sambil menunggu aku meminta mereka mengambil kelapa muda. Aldi dan anak laki-laki lainnya semangat mengambil, bertanya berapa kelapa muda yang kubutuhkan,aku menjawab 5 tetapi kaget saat mereka bergotongan membawa 14 kelapa muda. Mereka berebutan menungkan air kelapa, mengambil buahnya, menuangkan sirup dan susu serta mengaduknya. Mengadu padaku saat tidak diberi kesempatan untuk membatu, aku pun mengabsen satu persatu agar semua kebagian tugas dan tanpa terasa 15 menit berlalu, adonat donat sudah mengembang.

“Oke, jadi siapa yang mau bantu kak Kiki dan Kak Ayu buat donatnya”
“Saya!!” mereka kompak mengangkat tangan menjawab.
“Semua boleh bantu kakak, tapi harus cuci tangan dulu”. Mereka bergegas menuju sumur mushola, mencuci tangan. Istiqomah dan Fahri yang paling kecil diantara yang lain mendekati ku, malu-malu bertanya bolehkah mereka membantu. “Tentu, tapi cuci tangan dulu” jawabku tersenyum, mereka bergegas menyusul yang lain. 119 donat dengan berbagai bentuk berhasil kami buat, ada yang kecil seperti buatan Istiqomah dan Fahri, ada yang besar seperti buatan Aas.

“Nah donatnya kita biarin dulu, nanti dia bakalan gede lagi, setelah cukup gede baru kita goreng, sekarang kita urus dugannya dulu”. Setelah rasa dugan dirasa pas, dan donatnya sudah cukup mengembang kami menuju rumah Pak Nur untuk menggoreng donatnya.

“Donat-donat, sebiji 5 ribu, yang udah digoreng 10 ribu” Nirmala dan Herni berpromosi di sepanjang jalan. Ibu-ibu tertawa melihat ulah mereka. Tidak berapa lama Sisil, Mita dan rombongan dari Yoa datang, membawa buku dan mainan untuk anak-anak. Aku meminta yang lain menemui Sisil , berjanji kalau setelah matang aku akan ke sekolah dan menemui mereka.

Jam setengah 12 hujan turun dengan lebatnya, aku dibantu Kak Ayu, Penti, Risma dan Lela mengoreng serta menyiapkan donat untuk dibawa ke sekolah, untunglah hujan reda tepat ketika semua donat sudah digoreng. Aku memanggil anak-anak dan teman-teman Yoa, berkupul bersama di gajebo yang telah dilapisi tikar karena basah oleh hujan. Semua berebutan, mencicipi donat buatan mereka sendiri, berteriak bilang enak dan ingin lagi. 

Sayangnya baik aku ataupun kak Ayu tidak ada yang sempat untuk mengambil foto kegiatan, kami larut di dalamnya, lebih memilih merekamnya dalam ingatan sebagai sebuah kenangan. Melihat mereka tersenyum bahagia, tertawa itu semua membayar lunas hutang rindu ku.

Siang harinya aku dan teman-teman yang lain berpamitan, setelah berjanji kalau aku akan datang lagi secepatnya. Anak-anak Pulau Tegal membuatku merasa hangat karena dicintai, mendengar kata-kata ‘i love you’ dari Wahyudi rasanya lebih mneyenangkan dan tulus. Aku pikir 3 bulan tidak pernah datang dan banyaknya kakak-kakak baru yang mereka kenal membuat mereka lupa pada ku, tetapi aku keliru, mereka masih mengingatku, masih menyambutku dengan senyum yang sama. Rindu yang sama seperti rundu ku pada mereka. Mereka selalu berhasil membuat ku tersenyum, lupa terhadap semua kesulitan yang ada saat bersama, membuat ku ingin selalu cepat kembali kesana. Ah Tuhan dan nikmat Mu yang mana lagi yang hendak ku dustakan :”)